banner dprd berau

Labuan Cermin Disorot, Peluang Geopark Nasional Tetap Terbuka

Tanjung Redeb – Fenomena unik air asin dan air tawar di Labuan Cermin menjadi salah satu perhatian Tim Verifikator Geopark Nasional saat melakukan penilaian di Kabupaten Berau. Meski telah menjadi destinasi wisata unggulan, kawasan tersebut dinilai masih perlu memperkuat aspek edukasi agar sejalan dengan konsep geopark.

Ketua Tim Verifikator Geopark, Prof. Mega Fatimah Rosana, mengatakan Labuan Cermin sudah memiliki daya tarik wisata dan nilai ekonomi yang baik. Namun, informasi mengenai proses geologi yang menjadi keistimewaan kawasan itu masih minim.

“Kalau nanti sudah berlabel geopark, berarti di dalamnya harus ditambahkan informasi kaitan edukasinya. Misalnya di Labuan Cermin, fenomena air asin dan air tawarnya belum dijelaskan dalam panel informasi. Pengunjung perlu mengetahui mengapa fenomena itu bisa terjadi,” ujarnya.

Baca Juga  RDP DPRD Berau Bahas Solusi Atas Dampak Penutupan Proyek PT LMM Terhadap Pekerja

Menurut Mega, kondisi serupa juga ditemui di beberapa geosite lain. Selama ini pemanfaatan kawasan lebih banyak difokuskan pada aspek pariwisata dan ekonomi, sehingga unsur edukasi geologi perlu diperkuat agar pengunjung tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga memahami sejarah pembentukan kawasan tersebut.

Meski masih terdapat beberapa catatan, Mega menilai secara umum kesiapan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat sudah cukup baik. Selama enam hari verifikasi di Kutai Timur dan Berau, tim melihat pengelolaan sejumlah geosite menunjukkan perkembangan yang positif.

“Secara umum kesiapannya sudah cukup bagus. Memang ada beberapa bagian yang masih perlu ditingkatkan, tetapi kami melihat pengelolaannya sudah berjalan dengan baik,” katanya.

Baca Juga  DPRD Berau Harapkan Pembangunan Fasilitas Dasar Tuntas Secara Menyeluruh

Ia juga memberikan apresiasi terhadap keterlibatan masyarakat dalam menjaga dan mengelola kawasan geopark. Menurutnya, konsep pengelolaan berbasis masyarakat atau bottom-up sudah terlihat di sejumlah lokasi dan menjadi salah satu kekuatan kawasan ini.

“Saya sangat mengapresiasi keterlibatan masyarakat. Mereka sudah mandiri mengelola kawasan dan menjaga kelestariannya. Itu menjadi modal yang sangat baik untuk pengembangan geopark ke depan,” jelasnya.

Ia meyakini, apabila nantinya kawasan ini resmi menyandang status Geopark Nasional, nilai promosi dan kunjungan wisata akan semakin meningkat sehingga seluruh pihak harus siap menjaga kualitas pengelolaannya.

“Kalau nanti sudah berlabel Geopark Nasional, branding-nya tentu akan semakin kuat. Karena itu pengelola, masyarakat, termasuk media perlu terus berkolaborasi agar kawasan ini tetap terjaga,” katanya.

Baca Juga  Pemerintah Kampung Harus Aktif Koordinasi Dengan OPD Terkait

Terkait peluang penetapan, Mega mengaku optimistis berdasarkan hasil verifikasi lapangan yang telah dilakukan. Namun, ia menegaskan tim verifikator hanya bertugas menyusun laporan, sedangkan keputusan akhir berada di tangan rapat kementerian dan lembaga (KL).

“Kalau melihat hasil kunjungan selama enam hari ini, kami optimistis. Tapi keputusan akhirnya bukan di kami. Kami hanya melaporkan apa yang kami lihat, kemudian akan dibahas dalam rapat antar kementerian pada Agustus nanti,” ujarnya.

Apabila memperoleh rekomendasi dari rapat KL, hasilnya diperkirakan mulai diketahui pada Oktober 2026. Sementara Surat Keputusan penetapan sebagai Geopark Nasional umumnya diterbitkan oleh kementerian pada sekitar April tahun berikutnya.(Cha)