Kasus ISPA Berau Meningkat, Diduga Berkaitan dengan Paparan Asap Karhutla
Tanjung Redeb – Dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Berau mulai dirasakan pada sektor kesehatan. Dinas Kesehatan Berau mencatat adanya peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dalam beberapa pekan terakhir.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Berau, Lamlay Sarie, mengatakan peningkatan kasus ISPA mulai terlihat sejak pekan ke-19 tahun 2026. Padahal, pada periode awal tahun, jumlah kasus relatif stabil.
“Selama tahun 2026 mulai minggu pertama sampai minggu ke-18, kasus ISPA tidak mengalami peningkatan yang signifikan. Namun sejak minggu ke-19 mulai mengalami peningkatan,” ujarnya.
Berdasarkan laporan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), peningkatan kasus semakin terlihat sepanjang Agustus. Pada pekan ke-29 hingga pekan ke-33, Dinkes mencatat sebanyak 3.587 kasus ISPA.
Lamlay menyebut peningkatan tersebut terjadi bersamaan dengan memburuknya kondisi udara akibat asap Karhutla yang menyelimuti sejumlah wilayah Berau. Paparan asap, terutama dalam kondisi udara yang semakin pekat, menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai karena dapat memicu gangguan pada saluran pernapasan.
Kondisi tersebut semakin menjadi perhatian mengingat aktivitas Karhutla masih terjadi di berbagai wilayah. Berdasarkan data sebaran titik panas dari satelit SIPONGI pada 19 Agustus 2026, tercatat 276 hotspot di Kabupaten Berau.
Pulau Derawan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 93 titik. Selanjutnya Kecamatan Segah sebanyak 64 titik, Gunung Tabur 38 titik, Sambaliung 28 titik, dan Teluk Bayur 21 titik.
Sementara itu, hingga 22 Agustus 2026 tercatat 169 kejadian Karhutla di Berau. Sambaliung menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, mencapai 35 kejadian, disusul Teluk Bayur sebanyak 29 kejadian dan Pulau Derawan 26 kejadian.
Menurut Lamlay, sebaran Karhutla yang terjadi di 12 kecamatan perlu menjadi perhatian bersama karena dampaknya tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat.
Peningkatan kasus ISPA tersebut menjadi salah satu indikator bahwa kondisi kualitas udara selama periode Karhutla perlu mendapat perhatian lebih serius. Masyarakat, khususnya kelompok rentan, diimbau mengurangi paparan langsung terhadap asap dan memperhatikan kondisi kesehatan apabila mulai mengalami keluhan pada saluran pernapasan.(Cha)











