Ulang Tahun Berubah Jadi Musibah, Guru TK di Berau Kehilangan Rumah dan Mata Pencaharian
Tanjung Redeb – Tak ada yang menyangka hari yang seharusnya menjadi momen bahagia justru berubah menjadi kenangan paling menyakitkan bagi Yuli. Di hari ulang tahunnya, guru TK Bhayangkari di Tanjung Redeb itu harus menerima kenyataan pahit setelah rumah kontrakan yang dihuni bersama dua anaknya hangus dilalap api dalam kebakaran di Gang Pulau Panjang, Jalan Pulau Panjang, RT 27, Minggu (12/7/2026) siang.
Perempuan yang juga berstatus sebagai Single Parent itu mengaku masih sulit melupakan peristiwa yang terjadi hanya beberapa jam setelah dirinya merayakan pertambahan usia.
“Malamnya tepat pergantian hari saya ulang tahun. Paginya masih sempat tertawa, siangnya malah dapat kabar rumah terbakar,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca, Senin (13/7/2026).
Saat kebakaran terjadi, Yuli sedang berada di sekolah untuk mempersiapkan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang dimulai keesokan harinya. Di tengah kesibukannya, telepon dari sang anak tiba-tiba masuk.
Ia mengaku biasanya mengabaikan panggilan dari anaknya ketika sedang bekerja karena sering hanya digunakan untuk bercanda. Namun kali ini, tanpa alasan yang jelas, ia langsung mengangkat telepon tersebut.
Dari seberang sambungan, kabar mengejutkan itu disampaikan. Rumah yang baru sekitar dua bulan ditempatinya terbakar.
Yuli segera bergegas pulang. Namun setibanya di lokasi, akses menuju rumah sudah dipenuhi warga yang menyaksikan proses pemadaman.
Yang pertama kali terlintas di pikirannya bukanlah barang-barang berharga, melainkan keselamatan kedua anaknya.
Sempat tidak melihat keberadaan anak-anaknya, Yuli nekat masuk ke dalam rumah yang mulai dilalap api. Di tengah kepulan asap, ia hanya sempat menemukan seragam dan sepatu sekolah milik anaknya.
“Saya cuma sempat ambil itu. Bahkan sepatunya hanya sebelah yang berhasil diselamatkan,” katanya.
Beruntung, kedua anaknya ternyata telah lebih dulu keluar dari rumah ketika api masih belum membesar.
Meski begitu, perlengkapan sekolah yang berhasil dibawa keluar pun tak lagi bisa digunakan karena sudah ikut terbakar.
Akibatnya, putra bungsunya yang kini duduk di kelas V SDN 019 Tanjung Redeb harus menjalani hari pertama sekolah menggunakan pakaian pinjaman dari temannya. Sementara kakaknya yang bersekolah di SMK Berau masih menunggu pembuatan seragam baru.
“Awalnya mereka tidak mau masuk sekolah karena malu. Tapi pihak sekolah memahami kondisi kami,” ucapnya.
Tak hanya kehilangan tempat tinggal, kebakaran itu juga memutus sementara sumber penghasilannya. Selain mengajar di pagi hari, Yuli selama ini membuka jasa pemasangan nail art pada sore hingga malam hari.
Seluruh peralatan usahanya ikut musnah terbakar.
Padahal, ia sengaja pindah dari kawasan Bedungun ke Tanjung Redeb agar lebih dekat dengan pelanggan dan usahanya bisa berkembang.
Kini, Yuli bersama kedua anaknya untuk sementara tinggal di rumah salah seorang wali murid TK Bhayangkari di Jalan Karomah.
Meski belum mengetahui bagaimana akan memulai kembali kehidupannya, ia memilih bertahan di Berau daripada kembali ke kampung halamannya di Pontianak.
Menurutnya, kedua anaknya telah bersekolah di Berau dan pekerjaan yang selama ini dirintis juga mulai memiliki pelanggan tetap.
“Saya ingin tetap bertahan di Berau. Sekarang yang penting cari tempat tinggal dulu, nanti pelan-pelan mulai lagi dari awal,” tuturnya.(Cha)











