Siaga “El Nino Godzilla”, Disdamkarmat Berau Kekurangan Personel
Tanjung Redeb – Ancaman fenomena El Nino ekstrem yang diprediksi melanda Indonesia mulai April 2026 memaksa Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Berau meningkatkan kesiapsiagaan.
Namun di balik upaya tersebut, keterbatasan jumlah personel menjadi tantangan serius dalam menghadapi potensi lonjakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Fenomena yang dijuluki “El Nino Godzilla” dan diperingatkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) diperkirakan berdampak panjang hingga Oktober mendatang, dengan potensi kemarau ekstrem mencapai delapan bulan.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Disdamkarmat Berau, Nofian Hidayat, mengungkapkan saat ini pihaknya hanya memiliki 88 personel yang tersebar di hampir seluruh kecamatan. Jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan ideal yang diperkirakan mencapai sekitar 250 personel.
“Memang belum ideal, tapi kami maksimalkan yang ada, termasuk melibatkan relawan dan Masyarakat Peduli Api,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi ini menjadi perhatian karena El Nino berpotensi tidak hanya memicu karhutla, tetapi juga kebakaran permukiman, kekeringan lahan pertanian, hingga terganggunya sektor perikanan masyarakat.
Untuk menutup keterbatasan tersebut, Disdamkarmat Berau melakukan berbagai langkah antisipasi, mulai dari evaluasi kekuatan personel, latihan mandiri, hingga pembentukan tim siaga guna meningkatkan kecepatan respons di lapangan.
“Ini bagian dari mitigasi dini, termasuk pencegahan dan edukasi ke masyarakat,” jelasnya.
Dari sisi sarana, armada pemadam disebut masih dalam kondisi siap operasional. Setiap kecamatan telah dilengkapi mobil tangki, sementara di pos induk tersedia sekitar 18 unit armada pendukung.
Meski demikian, kebutuhan penambahan personel dan penguatan sarana tetap menjadi prioritas ke depan. Disdamkarmat Berau juga telah mengusulkan dukungan anggaran tambahan, termasuk melalui dana bagi hasil sumber daya kehutanan.
Di tengah keterbatasan tersebut, peran masyarakat dinilai krusial dalam menekan risiko kebakaran selama musim kemarau panjang.
“Jangan membuka lahan dengan cara membakar, dan pastikan aktivitas yang berpotensi memicu api selalu diawasi. Pencegahan itu kunci,” tegas Nofian.
Ia juga mengimbau warga untuk menyiapkan cadangan air di lingkungan masing-masing sebagai langkah antisipasi dini.
“Kalau semua ikut waspada, potensi kebakaran bisa kita tekan bersama,” pungkasnya. (Cha)











