Penghasilan Menipis, Sopir Angkutan Keluhkan Sulitnya Solar dan Sepinya Pekerjaan
Tanjung Redeb – Keluhan para sopir angkutan di Kabupaten Berau terus mengemuka. Penghasilan yang semakin menurun membuat mereka harus berjuang lebih keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sementara biaya operasional terus meningkat.
Salah satu sopir, Tomi, mengatakan pekerjaan sebagai sopir menjadi satu-satunya sumber penghasilan bagi dirinya. Namun, kondisi pekerjaan yang tidak menentu membuat pendapatan yang diperoleh semakin minim.
Menurutnya, aktivitas pekerjaan kerap terkendala karena material timbunan yang sering ditutup atau tidak tersedia. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap penghasilan para sopir.
“Penghasilan makin menipis. Belum lagi anak sekolah dan kebutuhan rumah. Bisa dibilang kurang, bahkan turun drastis,” ujar Tomi.
Ia menyebut, kondisi tersebut membuat sejumlah sopir terpaksa mencari berbagai cara untuk bertahan hidup. Bahkan, ada yang menggadaikan kendaraan maupun barang berharga lainnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Teman-teman banyak yang sampai gadaikan motor untuk keberlangsungan hidup. Pokoknya bagaimana caranya bisa dapat uang untuk bertahan hidup,” katanya.
Tak hanya persoalan minimnya pekerjaan, para sopir juga menghadapi kendala mendapatkan bahan bakar solar. Tomi mengaku sulit memperoleh solar di pom pengisian bahan bakar sehingga terpaksa membeli dari pengecer dengan harga jauh lebih tinggi.
“Sulit. Kita harus beli di eceran dengan harga yang sangat mahal,” ungkapnya.
Ia menuturkan, harga solar yang seharusnya berada di kisaran Rp7.000 per liter, di tingkat pengecer bisa mencapai Rp280 ribu hingga Rp300 ribu untuk satu wadah yang menurutnya hanya berisi sekitar 17-18 liter.
Kondisi tersebut dinilai semakin memberatkan para sopir karena biaya bahan bakar harus dikeluarkan dari pendapatan yang sudah minim. Karena itu, mereka meminta adanya penertiban terhadap penjualan solar eceran sekaligus memastikan ketersediaan bahan bakar bagi para pekerja di lapangan.
“Kami mohon ditertibkan. Karena tanpa solar, kami tidak bisa beroperasi,” tegasnya.
Selain persoalan solar, Tomi juga meminta agar kondisi di lapangan lebih diperhatikan, termasuk adanya mekanisme pengaduan bagi para pekerja apabila menemukan pungutan atau persoalan lain yang merugikan sopir.
“Minimal ada kotak pengaduan untuk para pekerja di lapangan,” harapnya.
Para sopir berharap pemerintah dan pihak terkait dapat segera mencari solusi atas persoalan tersebut. Mereka menilai kepastian pekerjaan, ketersediaan solar dengan harga wajar, serta pengawasan di lapangan penting agar pendapatan mereka tetap mampu menopang kebutuhan keluarga.(Cha)











