banner dprd berau

Sutami Dukung Film Raja Alam, Dorong Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional

Tanjung Redeb – Anggota Komisi II DPRD Berau, Sutami, menyatakan dukungan penuh terhadap rencana produksi film tentang Raja Alam sebagai upaya memperkuat literasi sejarah dan kebanggaan daerah. Ia menilai, sosok Raja Alam yang merupakan sultan di Berau masih belum banyak dikenal masyarakat, khususnya generasi muda.

Menurutnya, selama ini nama Raja Alam memang kerap digunakan, seperti penamaan jalan di Kecamatan Batu Putih seperti Raja Alam 1, Raja Alam 2, hingga Raja Alam 3 bahkan menjadi inspirasi penamaan Batalyon 613. Namun, tidak semua warga memahami siapa sebenarnya tokoh tersebut.

“Banyak masyarakat yang belum tahu siapa Raja Alam ini. Padahal beliau adalah sultan kita. Namanya digunakan di banyak tempat, tetapi sejarahnya belum sepenuhnya dipahami,” ujarnya.

Baca Juga  Film “Raja Alam” Dinilai Berpotensi Gerakkan UMKM dan Ekonomi Kreatif Berau

Sutami mencontohkan makam Raja Alam yang berada di Kampung Tembudan. Ia mengungkapkan, setelah makam tersebut dipagar sekitar tahun 2000-an, barulah sebagian masyarakat mengetahui bahwa di wilayah tersebut dimakamkan seorang sultan.

Dalam prasasti yang ada di makam itu, diceritakan bagaimana perjuangan Raja Alam melawan Belanda di laut. Disebutkan, Belanda membutuhkan waktu hingga 10 hari untuk melumpuhkan kekuatan Raja Alam.

Ia tidak menyerah dalam pertempuran, melainkan ditangkap dan kemudian diasingkan ke Makassar. Atas permohonan Kesultanan Gunung Tabur dan Sambaliung, serta tokoh dari Batu Putih, Raja Alam akhirnya dipulangkan kembali ke Tembudan.

Bagi Sutami, kisah perjuangan tersebut merupakan narasi sejarah yang kuat dan layak diangkat ke layar lebar. Ia mengapresiasi inisiatif komunitas yang ingin memfilmkan kisah tersebut.

Baca Juga  DPRD Berau Dorong Diskan Berikan Pendampingan Pemasaran Bagi Nelayan

“Kalau hanya ditampilkan di teater, mungkin satu malam saja kita mengingatnya. Tapi kalau dalam bentuk film, semua masyarakat bahkan dunia bisa menyaksikan. Ini investasi jangka panjang untuk sejarah daerah,” katanya.

Ia menegaskan, dukungan pemerintah daerah sangat diperlukan, baik dari sisi anggaran maupun sumber daya manusia. Menurutnya, produksi film ini tidak boleh dilakukan secara asal-asalan, melainkan harus digarap secara serius dan profesional agar mampu bersaing di ajang film bertema kedaerahan.

Sutami juga mendorong agar upaya pengusulan gelar pahlawan bagi Raja Alam dapat diperjuangkan melalui seminar di tingkat kabupaten, provinsi, hingga pusat. Ia menilai, dedikasi Raja Alam dalam melawan penjajah layak mendapatkan pengakuan nasional.

Baca Juga  Respons Cepat Karyawan, Kebakaran di Dapur Cafe Atmosfer Berau Berhasil Dipadamkan

“Di Berau ini ada dua kesultanan besar, tetapi belum ada yang mendapatkan gelar pahlawan. Ini harus kita perjuangkan sebagai bentuk penghormatan dan kebanggaan daerah,” tegasnya.

Lebih jauh, ia bahkan mengusulkan agar nama Raja Alam dipertimbangkan menjadi nama bandara di Berau, sebagai simbol penghargaan terhadap tokoh sejarah daerah.

Sutami berharap ke depan akan ada diskusi lanjutan antara DPRD, pemerintah daerah, dan komunitas penggagas film untuk membahas konsep hingga kebutuhan anggaran secara lebih detail.

“Ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Film ini akan menjadi warisan sejarah bagi generasi mendatang agar mereka tahu siapa Raja Alam dan bagaimana perjuangannya,” pungkasnya.(Cha/ADV)