Sampah Berau Capai 150 Ton Sehari, TPA Bujangga Terancam Penuh
TANJUNG REDEB – Volume sampah di Kabupaten Berau yang mencapai sekitar 150 ton per hari menjadi pekerjaan besar dalam menjaga kebersihan lingkungan. Jika tidak diimbangi pengurangan dari sumbernya, tempat pemrosesan akhir (TPA) Bujangga dikhawatirkan semakin terbebani.
Dengan total produksi mencapai 54.568 ton per tahun, pola pengelolaan sampah yang selama ini mengandalkan pengumpulan dan pengangkutan dinilai tidak lagi cukup. Masyarakat perlu mengambil peran sejak sampah dihasilkan, terutama melalui kebiasaan memilah sampah rumah tangga.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengatakan persoalan tersebut tidak lepas dari kebiasaan masyarakat yang masih mencampur seluruh jenis sampah sebelum dibuang. Akibatnya, sampah yang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan justru berakhir di tempat pembuangan.
Hal itu disampaikannya dalam Talk Show Inspiratif bertajuk “Sampah Bernilai, Wisata Lestari” di Story Mount, Jalan Gunung Panjang, Tanjung Redeb, Sabtu (31/10/2026).
Menurut Gamalis, tantangan pengelolaan sampah di Berau juga dipengaruhi kondisi geografis. Sebaran wilayah yang luas, termasuk kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil, membuat proses pengangkutan membutuhkan biaya serta dukungan infrastruktur lebih besar.
Terlebih, Berau memiliki banyak destinasi wisata yang tersebar dari kawasan hulu hingga kepulauan. Jika tidak ditangani dengan baik, sampah berpotensi terbawa aliran sungai dan berakhir di kawasan pesisir maupun laut.
“Pengangkutan sampah dari pulau-pulau kecil juga membutuhkan biaya dan dukungan infrastruktur lebih besar,” ujarnya.
Gamalis menilai, salah satu langkah yang perlu diperkuat adalah membangun sistem pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga. Pemilahan antara sampah organik dan anorganik harus menjadi kebiasaan sebelum sampah masuk ke proses pengangkutan.
Selain mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA, langkah tersebut juga membuka peluang ekonomi melalui pemanfaatan kembali material yang masih memiliki nilai jual.
Namun, menurutnya, upaya tersebut perlu didukung pasar yang mampu menyerap produk hasil daur ulang. Tanpa kepastian pasar, pengelolaan sampah berpotensi berhenti sebatas kegiatan pengumpulan.
“Pangsa pasar untuk produk daur ulang harus mulai kita bentuk dari sekarang. Jika edukasi pemilahan berjalan, infrastruktur memadai, dan pasarnya jelas, sampah tidak hanya terminimalisir tetapi juga menggerakkan ekonomi warga,” katanya.
Ia juga menyoroti kapasitas TPA Bujangga yang memiliki luas 11,5 hektare. Dengan terus bertambahnya volume sampah, pengurangan dari sumber menjadi kebutuhan agar kapasitas tempat pembuangan tersebut tidak semakin cepat terlampaui.
Dalam diskusi tersebut, Gamalis turut menyinggung pentingnya peran komunitas dan kelompok masyarakat. Keberadaan Bank Sampah Mapan, Kelurahan Karang Ambun, hingga WWF Berau menjadi contoh keterlibatan berbagai pihak dalam mendorong pengelolaan sampah yang lebih produktif.
Talk show yang merupakan bagian dari rangkaian Pameran Foto 73 Tahun Berau dalam Gambar itu juga menghadirkan Pengelola Bank Sampah Mapan, Noviliana, serta Marine Tourism and Plastic Pollution Officer WWF Berau, Fatimah Ramadhanty Rahmat.
Gamalis berharap, pengelolaan sampah tidak lagi dipandang semata-mata sebagai urusan petugas kebersihan. Keterlibatan masyarakat dalam mengurangi dan memilah sampah dinilai menjadi bagian penting untuk menjaga lingkungan sekaligus mempertahankan daya tarik wisata Berau.(Adv/Cha)











