Karhutla di Berau Ancam Kelestarian Satwa Langka
Tanjung Redeb – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di Kabupaten Berau tidak hanya merusak kawasan hutan, tetapi juga mengancam kelangsungan hidup satwa liar. Rusaknya habitat memaksa sejumlah hewan keluar dari kawasan alaminya dan mendekati permukiman warga.
Salah satu kejadian yang menjadi perhatian adalah ditemukannya seekor burung Rangkong atau Enggang, satwa khas Kalimantan, di sebuah kafe di pusat Kota Tanjung Redeb beberapa waktu lalu. Kemunculan satwa tersebut diduga berkaitan dengan berkurangnya ruang hidup akibat kebakaran hutan.
Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Berau Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Yulian Sadono, mengatakan pihaknya segera melakukan penyelamatan terhadap burung tersebut karena termasuk satwa endemik yang dilindungi dan telah masuk dalam daftar CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora).
Menurut Yulian, BKSDA selama ini bekerja sama dengan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Berau untuk menangani laporan keberadaan satwa liar yang masuk ke kawasan permukiman maupun pusat kota. Hingga saat ini, laporan yang diterima baru terkait satu ekor burung Rangkong.
Ia mengimbau masyarakat agar segera melaporkan kepada Damkar atau BKSDA apabila menemukan satwa liar yang keluar dari habitatnya, sehingga dapat segera dilakukan penanganan yang tepat.
Yulian juga menegaskan bahwa karhutla yang terus meluas berpotensi menghilangkan habitat alami berbagai satwa endemik Kalimantan. Kondisi tersebut tidak hanya mengancam kelestarian satwa, tetapi juga dapat mengurangi daya tarik wisata alam yang selama ini menjadi salah satu potensi unggulan Kabupaten Berau.(Cha)











