Buku Burakat Banua Hadir Jadi Rujukan Sejarah dan Akar Budaya Berau
Tanjung Redeb – Kehadiran buku Burakat Banua diharapkan menjadi referensi penting dalam mengenalkan sejarah, budaya, dan asal-usul Kabupaten Berau kepada masyarakat. Buku karya penulis lokal Putri Aida Sapriyani itu dinilai menjadi upaya nyata mendokumentasikan warisan budaya daerah agar tidak hilang ditelan zaman.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Berau, Rabiatul, mengatakan Berau memiliki kekayaan sejarah yang lahir dari perjalanan panjang dua kerajaan, yakni Kerajaan Gunung Tabur dan Kerajaan Sambaliung. Warisan tersebut tidak hanya berupa catatan sejarah, tetapi juga adat istiadat, bahasa, budaya, hingga kekayaan alam yang menjadi identitas masyarakat Berau.
Menurutnya, buku Burakat Banua menjadi salah satu media untuk memperkenalkan kembali akar budaya tersebut kepada generasi sekarang sekaligus memperkaya literatur mengenai sejarah daerah.
“Melalui buku ini kami berharap masyarakat, peneliti, pelajar maupun pemustaka memiliki sumber rujukan untuk mengenal lebih dalam sejarah dan budaya Kabupaten Berau,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penerbitan buku bertema konten lokal merupakan komitmen Dispusip Berau meski di tengah keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi pemerintah. Program penerbitan buku-buku lokal tetap dipertahankan sebagai bagian dari pelestarian sejarah daerah.
Rabiatul mengakui masih banyak penulis lokal yang ingin menerbitkan karya melalui pemerintah daerah. Namun, keterbatasan anggaran membuat proses tersebut harus dilakukan secara bertahap dan akan kembali diprogramkan pada anggaran berikutnya, termasuk pada tahun 2027.
Menurutnya, dokumentasi sejarah melalui buku memiliki peran penting agar generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya. Sebaliknya, mereka diharapkan semakin bangga terhadap identitas daerah dan mampu mengembangkan budaya Berau di masa mendatang.
Ia juga menjelaskan bahwa istilah “Burakat” memiliki makna sebagai akar atau asal-usul, sehingga Burakat Banua dimaknai sebagai upaya menelusuri asal mula Berau beserta perjalanan sejarah yang membentuk daerah tersebut hingga saat ini.
Selain mengangkat sejarah kerajaan, Rabiatul menilai pelestarian budaya juga perlu diwujudkan melalui pengenalan kuliner dan bahasa lokal. Ia mencontohkan sejumlah nama makanan tradisional Berau, seperti Ancur Paddas dan Talingasagai, yang menurutnya perlu terus dipertahankan sebagai identitas budaya daerah.
“Harapan kami, masyarakat semakin mengenal akar budayanya. Sejarah, bahasa, kuliner, dan adat istiadat adalah kekayaan yang harus dijaga bersama agar tetap menjadi identitas Kabupaten Berau,” pungkasnya.(Cha)











