Ketua DPRD Berau Minta Pemkab Percepat Operasional RSUD Baru
Tanjung Redeb – Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto, meminta Pemerintah Kabupaten Berau untuk tidak lagi menunda fungsionalisasi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Redeb di Jalan Sultan Agung. Selain krusial bagi layanan publik, percepatan ini bertujuan untuk menghindari potensi temuan audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Kekhawatiran tersebut muncul mengingat proyek gedung rumah sakit ini awalnya diproyeksikan mulai beroperasi pada awal tahun 2026. Namun, realita di lapangan menunjukkan adanya kendala teknis yang menyebabkan operasional rumah sakit baru tersebut masih tertunda.
”Kalau bisa secepatnya dibuka agar kita tidak dapat teguran dari BPK. Karena awalnya sudah seharusnya dibuka awal tahun. Mudah-mudahan bulan lima ini sudah siap,” ungkap Dedy.
Dedy mengakui bahwa saat ini masih terdapat tantangan besar dalam hal pengadaan alat kesehatan (alkes) serta ketersediaan tenaga kesehatan (nakes) yang mumpuni. Hal inilah yang ditengarai menjadi penyebab utama operasional rumah sakit berjalan stagnan. Tak hanya urusan internal rumah sakit, masalah sanitasi lingkungan seperti kondisi TPA Bujangga yang kian kritis juga menjadi catatan penting, sehingga pembangunan TPA baru di Pegat Bukur harus segera dituntaskan sebagai penunjang fasilitas kesehatan.
Sebagai langkah awal yang realistis, Dedy menyarankan agar pemerintah tidak perlu menunggu seluruh fasilitas sempurna untuk mulai membuka pelayanan. Ia mendorong agar ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) didahulukan untuk beroperasi guna mengurai kepadatan layanan yang selama ini bertumpu di RSUD Abdul Rivai.
”Mungkin untuk sementara belum rawat inap. Tapi mungkin bisa untuk layanan lain misalnya IGD-nya. Karena yang jelas rawat inap kan nda mungkin karena fasilitas belum lengkap,” jelasnya lebih lanjut.
Satu pekerjaan rumah besar yang kini dinanti publik adalah kepastian rekrutmen dan penempatan tenaga medis. Dedy menekankan bahwa manajemen sumber daya manusia harus dikelola dengan matang agar pelayanan tidak terganggu oleh mobilitas dokter yang tidak menentu.
”Karena kalau sudah dibuka, dokter yang dari Abdul Rivai pasti juga nda mau pindah-pindah,” tandasnya menutup pembicaraan. (Cha/Adv)











