DPRD Berau Dorong Inovasi Tata Kelola Pemerintahan di Tengah Efisiensi Anggaran
Berau – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Berau, Rahman, secara resmi meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Hal ini menyusul adanya kebijakan efisiensi anggaran yang saat ini tengah bergulir di lingkungan pemerintah daerah.
Rahman menekankan bahwa dengan jumlah penduduk Kabupaten Berau yang mencapai kurang lebih 300 ribu jiwa dan kekuatan APBD sebesar Rp3,4 triliun, pemerintah daerah dituntut untuk bekerja lebih optimal. Menurutnya, setiap rupiah yang dialokasikan harus mampu direalisasikan secara efektif, efisien, dan tepat sasaran bagi kepentingan masyarakat luas.
Dalam penyampaiannya, Rahman membandingkan kondisi fiskal Kabupaten Berau dengan daerah lain yang memiliki tantangan lebih besar. Ia mencontohkan adanya daerah dengan populasi mencapai 2,5 juta jiwa, namun hanya didukung oleh APBD sejumlah Rp4 triliun.
”Bahkan terdapat satu kecamatan di daerah lain yang penduduknya mencapai 192 ribu jiwa. Meskipun mereka tidak memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, mereka mampu bertahan dan berkembang melalui kekuatan inovasi,” jelas Rahman.
Ia menilai bahwa Berau harus mengambil pelajaran penting dari perbandingan tersebut, khususnya dalam aspek kreativitas tata kelola. Menurutnya, perubahan kecil pada pola pikir dan ide dapat memberikan dampak signifikan apabila dikelola dengan manajerial yang baik serta pengawasan yang ketat.
Pihaknya mendorong para pemangku kebijakan di tingkat paling dasar, yakni Lurah dan Kepala Kampung, untuk mulai memetakan strategi baru dalam menjawab tantangan efisiensi. Hal ini sangat krusial guna memastikan bahwa setiap program kerja tetap selaras dengan target pembangunan daerah serta mampu mengoptimalkan potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara mandiri dan berkelanjutan.
”Saya meyakini bahwa jajaran lurah maupun kepala kampung memiliki gagasan strategis untuk mengatasi kondisi ini. Fokus utama saat ini adalah bagaimana mengubah pola pikir agar tetap mampu menghadirkan solusi terbaik berdasarkan kebutuhan riil masyarakat di tengah keterbatasan yang ada,” tandasnya. (Cha/Adv)











