Diskan Berau Fokus Kembangkan Keramba Sungai, Lima Kelompok Jadi Target 2026
Tanjung Redeb – Pengembangan budidaya ikan di Kabupaten Berau saat ini lebih difokuskan pada perairan umum seperti sungai, danau, dan rawa yang menjadi kewenangan pemerintah kabupaten. Sementara untuk tambak laut, merupakan kewenangan pemerintah provinsi.
Kasi Pengembangan Kawasan Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Berau, Budiono, menjelaskan bahwa budidaya yang berkembang di Berau didominasi sistem keramba di aliran sungai.
“Kalau tambak laut itu kewenangan provinsi. Kalau kami di kabupaten fokusnya di sungai, danau, rawa. Untuk keramba, di Berau ada di Sungai Segah dan Sungai Kelay, tapi yang paling dominan itu di Sungai Segah,” ujarnya.
Di sepanjang Sungai Segah, banyak pembudidaya memanfaatkan bantaran sungai untuk mengembangkan keramba. Komoditas yang dibudidayakan pun cukup beragam.
“Jenis ikan yang paling banyak itu nila, mas, patin, dan lele. Empat jenis ini juga yang disuplai oleh balai benih kita untuk pembudidaya di Berau,” jelasnya.
Dari sisi pemasaran, Budiono menyebut sebagian besar komoditas relatif stabil. Ikan mas, nila, dan patin bahkan dinilai masih memiliki peluang pasar yang baik.
“Untuk ikan mas, patin, dan nila alhamdulillah pemasarannya baik. Bahkan kadang masih kurang dan ada yang ambil dari luar daerah,” katanya.
Namun, untuk ikan lele, tantangan muncul ketika panen dilakukan secara bersamaan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kelebihan pasokan di pasaran. Meski demikian, pembudidaya mulai melakukan inovasi dengan mengolah hasil panen menjadi produk turunan.
“Kalau panen bersamaan memang ada kendala. Tapi sekarang banyak yang berinovasi, dijadikan produk olahan, jadi tidak hanya dijual segar,” tambahnya.
Di balik perkembangan budidaya keramba, persoalan utama yang masih dikeluhkan pembudidaya adalah tingginya harga pakan. Harga pakan ukuran 30 kilogram disebut mencapai lebih dari Rp400 ribu per sak.
“Rata-rata kendala pembudidaya itu di pakan. Harganya memang cukup mahal di sini,” ungkap Budiono.
Untuk mengkoordinir hal tersebut, sebagian pembudidaya mulai menggunakan pakan alternatif. Bahan-bahan seperti sisa makanan warung hingga produk kedaluwarsa yang masih layak diolah kembali dimanfaatkan sebagai campuran pakan ikan.
Terkait dukungan pemerintah, Diskan Berau menyalurkan bantuan dalam bentuk kelompok, bukan perorangan. Bantuan yang diberikan meliputi benih ikan, pakan, hingga sarana prasarana seperti kolam terpal.
“Kita tidak bisa bantu perorangan, harus melalui kelompok. Jadi masyarakat diharapkan membentuk kelompok supaya bisa kita fasilitasi,” tegasnya.
Untuk tahun 2026, Diskan menargetkan pembinaan terhadap lima kelompok budidaya yang tersebar di Tanjung Redeb dan Gunung Tabur. Bantuan yang diberikan berupa kolam terpal, benih, dan pakan untuk komoditas yang dinilai mudah dibudidayakan seperti lele, patin, dan nila.
Budiono menambahkan, bantuan pemerintah bersifat stimulan dan tidak diberikan setiap tahun kepada kelompok yang sama.
“Bantuan itu sifatnya simultan. Tidak bisa setiap tahun dibantu terus. Harapannya setelah dibantu, kelompok bisa mandiri dan mengelola usahanya dengan baik,” pungkasnya. (Cha)











