Inflasi Berau Meningkat Akibat Ketergantungan Pasok dari Luar Wilayah
Berau – Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Berau, Sri Kumalasari, menyoroti dinamika inflasi daerah yang masih terus dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas pangan esensial. Beras, ayam, dan telur secara konsisten menjadi item yang paling sering menjadi sorotan keluhan warga, terutama seiring peningkatan tingkat konsumsi di masyarakat yang terus berkembang.
Kondisi inflasi di Berau secara esensial mencerminkan ketergantungan yang sangat tinggi daerah terhadap pasokan pangan dari luar wilayah.
“Selama ini pasokan kita sangat bergantung pada Surabaya dan Sulawesi. Sehingga ketika terjadi kenaikan harga di wilayah sumber, peningkatan otomatis juga terasa di sini tanpa ada jeda waktu,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti peningkatan signifikan konsumsi bahan pokok akibat operasionalnya sejumlah dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini aktif di berbagai sekolah di seluruh kabupaten.
“Dengan berjalannya banyak dapur MBG yang melayani ribuan siswa setiap hari, penggunaan beras, ayam, dan telur mengalami peningkatan yang luar biasa signifikan,” paparnya.
Menurutnya, kondisi ini membuat stabilitas harga semakin sulit dipertahankan karena pasokan lokal belum mampu menyeimbangkan lonjakan permintaan yang terus meningkat. Mala menegaskan bahwa produksi pangan Berau masih jauh dari standar memadai yang dibutuhkan.
“Untuk beras saja, kontribusi lokal hanya mencapai beberapa persen dari total kebutuhan tahunan. Artinya, kita belum benar-benar mampu berdiri sendiri,” katanya.
Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas telur, saat ada kegiatan besar daerah yang melibatkan ribuan orang, kebutuhan tidak bisa dipenuhi oleh peternak lokal, sehingga harus mendatangkan tambahan langsung dari Sulawesi.
Sri menekankan bahwa kemandirian pangan bukan sekadar program politik, melainkan kebutuhan mendesak daerah untuk melindungi masyarakat dari risiko inflasi yang berulang dan merugikan.
“Kita harus mampu memenuhi kebutuhan sendiri, mulai dari beras, telur, ayam, hingga produk pertanian lainnya. Itulah kuncinya untuk mengakhiri ketergantungan,” tegasnya. (Adv/ms)











