banner dprd berau

Lahan Pascatambang Berau Diproyeksikan Jadi Penghasil Energi Lewat Kemiri Sunan

Tanjung Redeb – Upaya reklamasi lahan pascatambang di Kabupaten Berau tak hanya dipandang sebagai kewajiban pemulihan lingkungan, tetapi juga berpotensi menjadi langkah menuju kemandirian energi.

Gagasan itu disampaikan Duta Besar Seychelles untuk ASEAN, Nico Barito, saat menawarkan konsep reklamasi berbasis tanaman Kemiri Sunan kepada para pelaku usaha pertambangan di Berau.

Menurut Nico, Kemiri Sunan memiliki manfaat lebih dari sekadar menghijaukan kembali lahan bekas tambang. Tanaman tersebut menghasilkan biji yang dapat diolah menjadi bahan bakar nabati, sehingga mampu mendukung kebutuhan operasional perusahaan tambang tanpa bergantung sepenuhnya pada pasokan bahan bakar minyak dari luar daerah.

Baca Juga  Pembangunan Fisik dan Ekonomi Pulau Derawan Masuk Prioritas

“Target awalnya bukan untuk menjual bahan bakar, tetapi memenuhi kebutuhan energi perusahaan tambang sendiri agar lebih mandiri dan biaya operasional bisa ditekan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, program tersebut idealnya diterapkan pada lahan reklamasi seluas sekitar 2.000 hektare agar pembangunan fasilitas pengolahan minyak Kemiri Sunan menjadi lebih efisien. Namun, skala yang lebih kecil tetap memungkinkan diterapkan melalui penyulingan mandiri.

Selain menghasilkan energi alternatif, penanaman Kemiri Sunan juga dinilai mampu memperbaiki kualitas lahan pascatambang. Sistem perakaran tanaman tersebut berfungsi memperkuat struktur tanah, mengurangi potensi erosi, sekaligus membuka peluang penanaman tanaman pangan sebagai tanaman sela yang dapat dimanfaatkan masyarakat sekitar.

Baca Juga  Kawal Hak Buruh, Elita Herlina Dorong Pemkab Berau Bentuk Satgas THR

Nico menyebut pendekatan tersebut telah diterapkan di Seychelles sebagai bagian dari pengembangan ekonomi hijau. Bahkan, negaranya siap berbagi pengalaman, termasuk dalam penghitungan nilai karbon yang dihasilkan dari kawasan reklamasi sehingga dapat memberikan nilai ekonomi tambahan melalui perdagangan karbon.

“Selain lahannya kembali hijau, ada potensi nilai karbon yang bisa dimanfaatkan. Pengalaman menghitung hingga memasarkan karbon itu sudah kami lakukan dan siap kami bagikan,” katanya.

Ia menambahkan, teknologi pengolahan minyak Kemiri Sunan relatif sederhana karena hanya memerlukan proses esterifikasi tanpa harus membangun kilang minyak berskala besar. Dengan demikian, investasi yang dibutuhkan dinilai lebih terjangkau dibandingkan teknologi pengolahan bahan bakar lainnya.

Baca Juga  92 Guru PAI Jadi Penopang Pendidikan Agama di Pesisir Berau

Gagasan tersebut merupakan bagian dari kelanjutan kerja sama ekonomi biru antara Seychelles dan Kabupaten Berau yang telah terjalin sejak 2022.

Menurut Nico, keberhasilan konservasi kawasan pesisir tidak bisa dilepaskan dari upaya memperbaiki kondisi wilayah hulu, termasuk kawasan bekas pertambangan.

Melalui pendekatan berbasis vegetasi, air limpasan dari area tambang diharapkan dapat tersaring secara alami oleh sistem perakaran tanaman sebelum mengalir ke wilayah hilir.

Konsep ini dinilai mampu mengintegrasikan pemulihan lingkungan, penguatan ekonomi, dan pengembangan energi terbarukan dalam satu program reklamasi.(Cha)