Banyak Hidran Rusak, DPRD Berau Desak Perbaikan Menyeluruh Jelang Kemarau
Tanjung Redeb – Menjelang potensi musim kemarau yang diprediksi cukup ekstrem tahun ini, kesiapan infrastruktur penanggulangan kebakaran di Kabupaten Berau mulai menjadi sorotan. Salah satunya terkait kondisi hidran yang dinilai belum optimal.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Berau pun bergerak melakukan inspeksi lapangan dengan menyasar sejumlah titik rawan, termasuk di Kecamatan Sambaliung. Wilayah ini diprioritaskan lantaran memiliki tingkat kerentanan kebakaran yang cukup tinggi, terutama saat musim kering.
Kepala Disdamkarmat Berau, Rakhmadi Pasarakan, menegaskan bahwa keberadaan hidran yang berfungsi baik sangat krusial dalam mempercepat penanganan kebakaran. Karena itu, pihaknya tidak hanya melakukan pengecekan, tetapi juga memastikan tekanan air stabil serta membersihkan fasilitas yang ada.
“Jangan sampai saat terjadi kebakaran, hidran justru tidak bisa digunakan. Itu yang kami antisipasi melalui pengecekan ini,” jelasnya.
Dari hasil pemeriksaan, ditemukan masih banyak hidran yang tidak dapat difungsikan, terutama di kawasan perkotaan Tanjung Redeb. Kondisi tersebut diduga akibat minimnya perawatan rutin, sehingga fasilitas penting ini tidak siap digunakan saat kondisi darurat.
“Kami menemukan beberapa hidran dalam kondisi tidak layak pakai. Ini tentu menjadi perhatian serius,” tambahnya.
Temuan tersebut mendapat respons dari DPRD Berau. Sekretaris Komisi I, Frans Lewi, menilai langkah pengecekan yang dilakukan Disdamkarmat sudah tepat sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau.
Namun demikian, ia menekankan bahwa upaya tersebut harus dibarengi dengan langkah konkret berupa perbaikan dan pemeliharaan berkelanjutan.
“Ini bukan hanya soal pengecekan, tapi bagaimana memastikan semua hidran benar-benar siap digunakan. Apalagi saat kemarau, risiko kebakaran meningkat,” ujarnya.
Frans juga mendorong agar pendataan ulang dilakukan secara menyeluruh di seluruh wilayah, tidak hanya terfokus di kawasan tertentu. Ia menilai, kawasan padat penduduk hingga daerah rawan lainnya perlu mendapat perhatian yang sama.
Menurutnya, kondisi hidran yang tidak berfungsi berpotensi memperlambat penanganan kebakaran dan meningkatkan risiko kerugian.
“Kalau fasilitas dasar tidak siap, tentu ini berbahaya. Harus ada evaluasi total dan perbaikan segera,” tegasnya.
Ia pun meminta adanya sistem perawatan berkala agar keberadaan hidran tetap terjaga dan dapat diandalkan kapan pun dibutuhkan.
Dengan langkah cepat dan kolaborasi lintas pihak, diharapkan kesiapan menghadapi musim kemarau dapat lebih maksimal, sehingga potensi kebakaran bisa ditekan dan dampaknya diminimalkan. (Cha/ADV)











