banner dprd berau

Stabilitas Daya Beli Jadi Tantangan Eksistensi Merek di Berau

Berau – Kehadiran sejumlah merek ternama di Kabupaten Berau, dengan gerai pakaian, aksesori, hingga gaya hidup yang semakin banyak, menjadi perhatian. Namun, di balik antusiasme ini, stabilitas daya beli masyarakat menjadi isu utama yang mempengaruhi kelangsungan investasi.

Anggota Komisi II DPRD Berau, Gideon Andris, menyoroti fenomena ini. Ia menilai bahwa sektor kuliner tetap menjadi yang paling stabil di tengah gejolak ekonomi, sementara sektor ritel seringkali mengalami kegagalan dalam waktu singkat.

“Kalau brand seperti toko pakaian atau aksesori itu menurut saya angin-anginan saja. Bulan pertama dan kedua mungkin ramai, tapi setelah itu meredup,” ujar Gideon.

Baca Juga  DPRD Berau Perjuangkan Hak Pasien BPJS PBI yang Terbebani Biaya Rujukan

Gideon menjelaskan bahwa pola konsumsi masyarakat Berau lebih berorientasi pada utilitas daripada gaya hidup. Masyarakat cenderung memilih barang yang tepat guna, tanpa terlalu memperhatikan merek tertentu.

“Kondisi ekonomi di luar sektor kuliner memang tidak terlepas dari kebiasaan hidup masyarakat. Mereka lebih memilih barang tepat guna tanpa terlalu memperdulikan merek dan harganya,” jelasnya.

Baca Juga  Buka MTQ Ke 59 Kecamatan Tanjung Redeb, Warji: Kita ingin Mengagungkan Kalam lahi

Sebaliknya, sektor kuliner justru semakin berkembang pesat. Munculnya warung kopi, resto tematik, hingga tempat makan kekinian terus mengisi ruang usaha baru dan tetap diminati. Melihat fluktuasi daya beli dan risiko bisnis ritel yang tinggi di Berau, Gideon mendorong Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) untuk ikut turun tangan. DPMPTSP tidak hanya berperan dalam perizinan, tetapi juga sebagai fasilitator pengembangan investasi.

“Mungkin DPMPTSP bisa menghadirkan seminar atau talkshow dengan pengusaha sukses dari luar kota agar pengusaha muda di Berau bisa belajar,” katanya.

Baca Juga  Banjir Akibat Hujan Lebat Terjang Kecamatan Segah dan Kelay, Ribuan KK Mengungsi

Menurutnya, pengusaha lokal butuh wawasan terkait strategi bertahan, manajemen bisnis, dan inovasi agar usaha yang dijalankan tidak mati setelah masa promosi berakhir. Selain edukasi bisnis, Gideon menilai pemanfaatan media digital juga menjadi kunci dalam menarik minat investor baru.

“Dibuatkan kelas diskusi, pendataan para investor, dan wadah berbagi ilmu bagi calon pengusaha muda di Berau. Ini bisa membantu membangun jaringan investor baru,” kuncinya. (Adv/ms)