banner dprd berau

ISPA Meningkat, Pemantauan Kualitas Udara Berau Terkendala Alat

Tanjung Redeb – Di tengah meningkatnya kasus saluran pernapasan akut (ISPA) yang diduga berkaitan dengan paparan asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), pemantauan kualitas udara di Kabupaten Berau masih menghadapi keterbatasan.

Salah satunya terkait pengukuran Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) untuk udara luar ruangan. Pengukuran tersebut semestinya dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK). Namun hingga kini, Berau belum memiliki alat khusus untuk mengukur ISPU di luar ruangan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Berau, Lamlay Sarie, mengatakan pihaknya menggunakan alternatif peralatan yang tersedia di setiap puskesmas untuk membantu memantau kondisi udara.

Baca Juga  Wujudkan Wisata Aman, Pemerintah Kecamatan Pulau Derawan Benahi Fasilitas Keamanan Laut

“Setiap puskesmas memiliki sanitarian kit yang terdapat alat pemeriksaan PM2,5 sehingga dapat mengukur kadar partikel udara halus sebagai indikator untuk mengetahui tingkat polusi udara,” jelasnya.

Menurutnya, alat yang terdapat dalam sanitarian kit tersebut pada dasarnya lebih diperuntukkan untuk mengukur kualitas udara dalam ruangan.

Meski begitu, hasil pengukuran kadar partikulat PM2,5 tetap dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pemantauan kondisi udara di tengah kabut asap Karhutla.

Baca Juga  SDM Berkualitas Jadi Faktor Utama Pembangunan Berau

PM2,5 merupakan partikel udara berukuran sangat kecil yang dapat masuk hingga ke saluran pernapasan. Karena itu, keberadaan partikulat tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika kualitas udara menurun akibat asap kebakaran.

Keterbatasan alat pengukur ISPU di luar ruangan menjadi tantangan tersendiri dalam memantau kondisi udara secara lebih menyeluruh. Terlebih, Karhutla masih terjadi di sejumlah wilayah Berau dan telah diikuti dengan peningkatan kasus ISPA dalam beberapa pekan terakhir.

Baca Juga  Bukan Sekadar Jual Ikan, Berau Bidik Stunting dan Inflasi

Dinkes pun mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kesehatan akibat paparan asap. Masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk.

Selain itu, penggunaan masker juga dianjurkan bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah. Langkah tersebut menjadi upaya untuk mengurangi paparan langsung terhadap asap dan partikulat di udara selama kondisi kabut asap masih berlangsung.(Cha)