Dana Kampung Bisa Tangani Bencana Banjir
Berau – Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Kabupaten Berau, Tenteram Rahayu, menegaskan bahwa alokasi dana kampung dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk menghadapi berbagai situasi darurat serta kejadian tak terduga, dengan contoh utama seperti bencana banjir yang kerap mengganggu kehidupan masyarakat.
Oleh karena itu, seluruh kampung yang berada di wilayah kabupaten tersebut didorong untuk tidak sungkan sama sekali dalam mengakses dan menggunakannya sesuai dengan kebutuhan yang muncul saat kondisi darurat terjadi.
Pernyataan penting tersebut disampaikan langsung Tenteram kepada awak media pada kesempatan temu pers baru-baru ini, sebagai bentuk tanggapan atas kejadian banjir yang baru saja melanda sejumlah hunian warga di beberapa kecamatan utama, yaitu Kecamatan Segah, Kelay, dan Sambaliung pada bulan Desember tahun 2025 lalu. Banjir kali ini telah memengaruhi aktivitas sehari-hari ribuan orang, sehingga keberadaan dana yang dapat diakses dengan cepat menjadi sangat krusial bagi upaya penanganan darurat.
“Dana untuk keperluan tak terduga memang telah disiapkan secara terencana dan khusus diperuntukkan untuk menangani berbagai jenis bencana alam, termasuk banjir yang sering kita alami. Sehingga jika kampung perlu mengambil langkah konkret seperti membeli bahan makanan pokok untuk memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak, membangun sarana dapur umum sebagai pusat distribusi makanan, atau melakukan perbaikan darurat lainnya seperti memperbaiki fasilitas publik yang rusak akibat bencana, hal tersebut seluruhnya diperbolehkan. Penggunaannya memang telah diatur secara jelas sesuai dengan ketentuan yang berlaku di tingkat kabupaten,” ujarnya.
Menurut informasi yang disampaikannya, beberapa kampung yang pernah terdampak banjir sebelumnya seperti Long Ayap dan Long Ayan telah mengoptimalkan penggunaan dana tersebut pada saat kondisi darurat terjadi beberapa waktu lalu. Bahkan, pihak pemerintah kampung di daerah-daerah tersebut juga telah menunjukkan responsif yang baik serta memiliki pemahaman yang mendalam terkait pola kemunculan bencana yang cenderung berulang setiap tahunnya.
“Kampung-kampung yang terdampak sebelumnya telah melakukan berbagai upaya penting mulai dari deteksi dini hingga mitigasi risiko bencana, mengamankan seluruh berkas administrasi terkait pengelolaan dana, serta mengetahui dengan jelas siklus terjadinya bencana banjir di wilayah masing-masing. Berkat upaya tersebut, tahun ini kondisi banjir yang terjadi juga tergolong lebih ringan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Semoga situasi tidak memburuk ke depannya dan kita bisa terus meningkatkan kapasitas penanganan bencana,” jelasnya.
Meskipun dana kampung dapat diakses dengan mudah untuk keperluan darurat tersebut, lanjut dia, besaran persentase dana tak terduga yang tercantum dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Kampung (APBK) bisa berbeda-beda antara satu kampung dengan kampung lainnya, tergantung pada skala wilayah dan potensi risiko bencana di masing-masing daerah.
Namun demikian, penggunaannya juga tidak akan mengganggu jalannya program rutin kampung selama proses realokasi atau penyesuaian anggaran dilakukan sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan.
“Prosedur pencairannya juga sejalan dengan mekanisme pendanaan kampung pada umumnya yang telah dikenal oleh seluruh pihak. Selama penggunaan dana dilakukan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan dan dilengkapi dengan dokumentasi yang jelas, tidak akan ada hambatan yang signifikan dalam proses pengelolaannya,” pungkasnya. (*/)











