banner dprd berau

Tari Punan Leto, Warisan Dayak Kenyah yang Tetap Hidup di Segah

SEGAH – Kisah tentang keberanian, kehormatan, dan perjuangan mendapatkan hati seorang perempuan menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Dayak Kenyah melalui Tari Punan Leto. Tarian tradisional ini tidak hanya menyuguhkan keindahan gerak, tetapi juga menyimpan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun.

Di Kabupaten Berau, khususnya Kecamatan Segah, Tari Punan Leto menjadi salah satu kesenian yang memperlihatkan kekayaan tradisi masyarakat Dayak Kenyah. Keberadaannya masih dapat dijumpai dalam berbagai kegiatan adat, mulai dari perayaan setelah panen hingga acara pernikahan dan penyambutan tamu.

Nama Punan Leto memiliki makna tersendiri. Dalam bahasa Dayak Kenyah, Punan diartikan sebagai merebut atau mempertahankan, sedangkan Leto berarti perempuan. Makna tersebut tergambar dalam alur tarian yang menceritakan persaingan dua pria untuk mendapatkan hati seorang perempuan.

Baca Juga  Diskoperindag Berau Asah Kemampuan 60 IKM Lewat Pelatihan Desain Kemasan

Pementasan ini umumnya melibatkan tiga penari, terdiri dari dua pria dan seorang perempuan. Kedua penari pria membawa mandau dan talawang atau perisai, sementara penari perempuan menampilkan gerakan tangan yang lembut dengan hiasan bulu burung enggang.

Perbedaan karakter gerakan menjadi daya tarik tersendiri. Penari perempuan bergerak anggun, sedangkan kedua penari pria memperlihatkan ketangkasan dan ketegasan melalui gerakan yang menyerupai pertarungan.

Meski mengangkat kisah persaingan, Tari Punan Leto tidak semata-mata berkisah tentang perebutan pasangan. Tarian ini juga mengandung pesan mengenai penghormatan terhadap perempuan, keberanian menghadapi tantangan, serta pentingnya menjaga kehormatan dalam menyelesaikan perselisihan.

Baca Juga  Pemerintah Berau Gelar Seminar Parenting untuk Orang Tua dan Guru Anak Berkebutuhan Khusus

Nilai-nilai tersebut membuat Tari Punan Leto memiliki kedudukan lebih dari sekadar hiburan. Setiap gerakan menjadi bagian dari cara masyarakat menyampaikan pesan moral melalui kesenian yang dekat dengan kehidupan mereka.

Dalam tradisi masyarakat Dayak Kenyah di Segah, tarian ini juga kerap ditampilkan pada Mecaq Undat, yakni pesta adat setelah panen raya. Perayaan tersebut menjadi ungkapan rasa syukur atas hasil panen sekaligus momentum untuk mempererat hubungan antarwarga.

Kehadiran Tari Punan Leto dalam berbagai kegiatan adat turut memperlihatkan bagaimana kesenian menjadi bagian dari identitas masyarakat. Musik sampe yang mengiringi tarian menambah kekhasan pertunjukan, sekaligus menghadirkan nuansa tradisional yang lekat dengan kebudayaan Dayak Kenyah.

Baca Juga  Rudy Mas’ud Dorong Pembangunan Rumah Singgah di Seluruh Rumah Sakit Kaltim Lewat Dana Zakat BAZNAS

Di tengah perubahan zaman, keberlanjutan tarian ini bergantung pada pewarisan pengetahuan dan keterampilan kepada generasi berikutnya. Pengenalan budaya melalui kegiatan adat dan pementasan menjadi salah satu cara agar generasi muda tetap mengenal kesenian yang tumbuh di lingkungan mereka.

Bagi masyarakat Segah, Tari Punan Leto bukan hanya peninggalan masa lalu. Tarian ini menjadi pengingat akan nilai-nilai yang dijunjung leluhur sekaligus bagian dari kekayaan budaya Berau yang patut terus dijaga.(Cha)