“Tulak Bala Buang Naas”, Warisan Adat Bahari yang Terus Dijaga Masyarakat Talisayan
TALISAYAN – Tradisi Adat Bahari Tulak Bala Buang Naas kembali digelar masyarakat Kampung Talisayan di Pendopo Kecamatan Talisayan, Selasa (12/8/2026). Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini menjadi wujud doa bersama masyarakat pesisir untuk memohon keselamatan, perlindungan, serta keberkahan bagi kampung dan seluruh warganya.
Mengusung tema “Merawat Silaturahmi, Melestarikan Adat Bahari untuk Talisayan Berkah dan Harmoni”, prosesi adat tersebut diikuti masyarakat, tokoh adat, unsur pemerintah, hingga Wakil Bupati Berau, Gamalis.
Kegiatan ini sekaligus menjadi pembuka rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Kampung Talisayan dan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kepala Kampung Talisayan, Ali Wardana mengatakan, Tulak Bala Buang Naas bukan sekadar ritual adat, tetapi juga menjadi identitas masyarakat yang kehidupannya tidak terlepas dari laut.
Melalui tradisi ini, masyarakat memanjatkan doa kepada Allah SWT agar seluruh aktivitas di wilayah pesisir senantiasa diberikan keselamatan dan dijauhkan dari segala marabahaya.
“Karena masyarakat Talisayan sangat dekat dengan laut, kami berharap seluruh aktivitas masyarakat di pesisir selalu diberikan perlindungan dan keselamatan. Tradisi ini juga menjadi sarana silaturahmi sekaligus identitas daerah,” ujarnya.
Salah satu prosesi utama dalam tradisi tersebut adalah Buang Naas, yang ditandai dengan penyiraman air linjuang kepada perwakilan anak-anak masyarakat kampung.
Air yang telah didoakan itu dipercikkan sebagai simbol membuang segala hal buruk dan harapan agar masyarakat diberikan kehidupan yang aman, damai, dan penuh keberkahan.
Bagi warga Talisayan, setiap tahapan ritual memiliki makna mendalam sebagai bentuk syukur, penguatan silaturahmi, sekaligus penghormatan terhadap warisan leluhur yang terus dijaga hingga kini.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengapresiasi komitmen masyarakat dalam mempertahankan tradisi tersebut meski di tengah perkembangan zaman.
“Ini merupakan kekayaan budaya yang harus terus dilestarikan karena menjadi bagian dari jati diri masyarakat pesisir,” katanya.
Ia menilai tradisi seperti Tulak Bala Buang Naas juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata budaya di wilayah pesisir selatan Berau. Selain memperkenalkan kekayaan budaya lokal, tradisi tersebut dapat memberikan pengalaman yang khas bagi wisatawan.
Gamalis juga mengingatkan pentingnya melibatkan generasi muda dalam setiap pelaksanaan adat agar tradisi tidak terputus oleh perkembangan teknologi dan arus informasi. Menurutnya, pelestarian budaya akan tetap terjaga apabila terus diwariskan dan dipraktikkan oleh generasi penerus.(Cha)











