banner dprd berau

Baru 9 Puskesmas di Berau Layani Pengobatan HIV, Dinkes Siapkan Penambahan Fasilitas

Tanjung Redeb – Dari total 21 puskesmas yang ada di Kabupaten Berau, baru sembilan puskesmas dan satu rumah sakit yang mampu memberikan layanan pengobatan HIV kepada pasien.

Hal tersebut disampaikan Wakil Supervisor/Pengelola Program P2-HIV Dinas Kesehatan Berau, Andy Nuriyanto, yang menyebut keterbatasan ini disebabkan oleh kebutuhan pelatihan dan kompetensi khusus bagi tenaga kesehatan.

“Tidak semua puskesmas bisa langsung memberikan pengobatan HIV. Mereka harus dilatih terlebih dahulu karena penanganannya membutuhkan kompetensi khusus,” ujarnya.

Baca Juga  SPAM Beroperasi, Mapulu Tak Lagi Kampung Tertinggal

Saat ini, layanan pengobatan HIV telah tersedia di sejumlah wilayah, mulai dari kawasan perkotaan hingga pesisir dan pedalaman, seperti Tanjung Batu, Teluk Bayur, Talisayan, Teluk Sulaiman, hingga beberapa puskesmas di wilayah hulu. Rumah Sakit Abdul Rivai juga menjadi salah satu fasilitas rujukan utama.

Andy menambahkan, pada tahun ini Dinkes Berau menargetkan penambahan satu puskesmas lagi yang dapat melayani pengobatan HIV, serta menyiapkan satu rumah sakit tambahan untuk layanan serupa.

Baca Juga  Perusda Bhakti Praja Gagas Pabrik Minyak Goreng, DPRD Berau Ingatkan Kajian Mendalam

“Insya Allah tahun ini akan bertambah satu puskesmas dan satu rumah sakit lagi,” katanya.

Meski belum semua puskesmas dapat memberikan pengobatan, Andy memastikan layanan tes HIV sudah menjangkau seluruh wilayah Berau, termasuk kampung-kampung terpencil dan daerah kepulauan.

“Tes HIV sudah bisa dilakukan 100 persen, sampai ke wilayah paling dalam di hulu dan pesisir seperti Maratua dan Biduk-Biduk,” jelasnya.

Baca Juga  TPA Pegat Bukur Diproyeksikan Rampung pada 2027, DLHK Pastikan Pembangunan Tetap Berjalan

Ia juga mengungkapkan, keterlambatan pengobatan HIV tidak hanya disebabkan keterbatasan fasilitas, tetapi juga faktor dari pasien, seperti penolakan atau ketidaksiapan menerima diagnosis, serta adanya penyakit penyerta seperti tuberkulosis (TB) yang harus diobati lebih dulu.

“Yang kita harapkan ke depan, screening semakin luas tapi temuan kasus baru semakin sedikit. Artinya pencegahan berjalan dan kesadaran masyarakat meningkat,” pungkasnya. (Cha)