Tampung Air Hujan, Maratua Butuh Embung Berkapasitas 16 Ribu Kubik
TANJUNG REDEB – Kebutuhan air bersih di Pulau Maratua masih menjadi pekerjaan yang perlu dituntaskan. Embung yang dibangun sejak 2024 belum sepenuhnya dapat difungsikan untuk menampung dan mengelola air hujan, karena masih membutuhkan penyelesaian sejumlah fasilitas pendukung.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Berau, Hendra Pranata mengatakan, berdasarkan perhitungan konsultan, kebutuhan kapasitas embung untuk Pulau Maratua mencapai 16.000 meter kubik.
Pembangunan embung tahap pertama telah rampung. Namun, fasilitas tersebut belum bisa dimanfaatkan secara optimal karena masih memerlukan pembangunan pintu air dan sistem penangkapan air.
“Untuk keseluruhan Pulau Maratua, dibutuhkan embung dengan kapasitas 16.000 kubik,” ungkapnya.
Hendra menjelaskan, penyelesaian pintu air telah diusulkan untuk dilanjutkan pada 2027. Sementara itu, upaya pemenuhan kebutuhan air baku juga diarahkan pada pemanfaatan air hujan yang ditangkap dari sepanjang bahu landasan pacu atau runway Bandara Maratua.
Namun, rencana tersebut masih memerlukan izin dari Kementerian Perhubungan karena lokasi yang akan dimanfaatkan berada di kawasan bandara.
Pihaknya berencana kembali mengajukan permohonan izin ke kementerian terkait. Selain membuka peluang pemanfaatan area tersebut, langkah ini juga diharapkan dapat membuka kesempatan dukungan anggaran untuk pembangunan fasilitas penangkapan air.
“Kalau dari analisis konsultan, berdasarkan curah hujan yang ada, itu cukup untuk memenuhi dua embung dengan kapasitas 16.000 kubik,” jelasnya.
Meski demikian, ketersediaan tampungan air belum menjadi solusi akhir. Air hujan yang terkumpul tetap harus melalui proses pengolahan sebelum dapat didistribusikan kepada masyarakat.
Karena itu, pembangunan instalasi pengolahan air bersih beserta jaringan distribusinya perlu menjadi bagian dari perencanaan lanjutan.
Hendra menyebutkan, jaringan pipa air sebenarnya sudah pernah dibangun bersamaan dengan proyek jalan di Maratua. Namun, kondisi jaringan tersebut dinilai masih perlu dievaluasi untuk memastikan kelayakannya dalam mendukung distribusi air hingga ke rumah warga.
Menurutnya, pembangunan embung harus diikuti dengan kesiapan fasilitas pengolahan dan penyaluran air. Tanpa dukungan infrastruktur tersebut, air yang berhasil ditampung belum tentu bisa dimanfaatkan langsung oleh masyarakat.
Dengan demikian, penyelesaian fasilitas embung, perizinan pemanfaatan kawasan bandara, serta pembangunan instalasi pengolahan dan jaringan distribusi menjadi sejumlah tahapan yang perlu dituntaskan agar potensi air hujan di Maratua dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.(Cha)











