banner dprd berau

Meskipun Anggaran Terbatas, Kecamatan Sambaliung Dorong Pembangunan Lewat Kakao dan Pariwisata

SAMBALIUNG – Keterbatasan anggaran yang terjadi secara nasional tidak menyurutkan semangat Kecamatan Sambaliung untuk tetap membangun. Pemerintah kecamatan bersama kampung-kampung di Sambaliung justru didorong untuk berinovasi dengan memaksimalkan potensi lokal, terutama sektor kakao dan pariwisata, sebagai penggerak ekonomi masyarakat.

Camat Sambaliung, Ahmad Juhri, mengungkapkan bahwa kondisi fiskal saat ini menuntut seluruh pemangku kepentingan di tingkat kampung hingga kecamatan untuk menyesuaikan diri. Hampir 50 persen anggaran daerah terdampak efisiensi, sehingga pola pembangunan tidak lagi bisa bergantung pada belanja besar.

“Suasana kita sekarang sama, anggaran terbatas. Tapi inovasi dan semangat kita tetap sama, membangun kampung-kampung di Sambaliung dengan memaksimalkan anggaran yang ada,” ujar Ahmad Juhri dalam Musrenbang Kecamatan Sambaliung.

Ia meminta seluruh kepala kampung dan lurah menyampaikan aspirasi pembangunan secara santun, sesuai dengan karakter dan budaya Sambaliung. Menurutnya, penyampaian usulan yang elok dan beretika menjadi ciri khas kecamatan tersebut.

Baca Juga  DPRD Berau Tegaskan THR Wajib Dibayar Jelang Idulfitri, Perusahaan Diminta Tidak Menunda

Dalam Musrenbang tahun ini, Kecamatan Sambaliung menghimpun sekitar 790 usulan pembangunan dari 1 kelurahan dan 13 kampung. Usulan tersebut masih didominasi sektor fisik sebanyak 563 kegiatan, disusul bidang ekonomi 103 usulan, sosial budaya 65, serta pemerintahan 59 usulan.

“Kami bersyukur karena Sambaliung masih berpikir tentang ekonomi, bukan hanya fisik. Walaupun fisik seperti jalan dan usaha tani juga berkaitan langsung dengan ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Salah satu potensi yang paling menonjol adalah tanaman kakao, yang diusulkan oleh lebih dari separuh kampung, di antaranya Kampung Suaran, Pilanjau, Pegat Bukur, Inaran, Bena Baru, dan Long Lanuk. Usulan ini sejalan dengan program Pemerintah Kabupaten Berau dalam pengembangan kakao sebagai komoditas unggulan daerah.

Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, menegaskan bahwa Berau kini harus beralih dari ketergantungan pada APBD dan sumber daya alam tak terbarukan menuju sektor yang berkelanjutan, seperti pertanian dan pariwisata.

Baca Juga  MP-AW Kampanye di Long Lanuk, Paparkan 24 Program Unggulan

“Kita tidak boleh lagi dimanjakan oleh APBD. Sumber daya alam harus kita kelola dengan inovasi dan kreativitas agar menjadi magnet peningkatan ekonomi masyarakat,” tegas Bupati.

Ia mengungkapkan bahwa kakao Berau memiliki daya tarik tersendiri di pasar internasional. Bahkan, permintaan kakao dari Prancis mencapai 25 ton dan dari Swiss 50 ton.

“Ini peluang besar. Kakao punya dampak luar biasa bagi ekonomi masyarakat. Karena itu saya minta janji Menteri Pertanian untuk bantuan 200 hektare kakao dan 200 hektare kelapa dalam benar-benar dikawal,” ujarnya.

Selain kakao, Sambaliung juga diarahkan menjadi pusat pengembangan pariwisata sejarah, wisata alam, dan wisata religi, termasuk rencana wisata religi di Gunung Padai serta wisata alam di Long Lanuk. Bupati menekankan bahwa pariwisata harus dikelola serius, bersih, dan berkelanjutan sesuai konsep Sapta Pesona.

Baca Juga  Inflasi Berau Meningkat Akibat Ketergantungan Pasok dari Luar Wilayah

“Pariwisata, UMKM, dan ekonomi kreatif tidak bisa dipisahkan. Kalau ini kita benahi bersama, ekonomi kampung akan bergerak meski di tengah efisiensi anggaran,” katanya.

Ia juga mendorong pemanfaatan sampah sebagai peluang ekonomi melalui daur ulang plastik dan pengolahan sampah organik, serta meminta peran aktif perusahaan melalui program CSR untuk mendukung pembangunan kampung.

Dengan kondisi seluruh kampung di Sambaliung kini berstatus maju dan mandiri, Bupati berharap anggaran kampung dapat dikelola lebih efektif dan efisien, tidak hanya untuk pembangunan fisik, tetapi juga pemberdayaan sumber daya manusia.

“Ini adalah ladang ibadah kita bersama. Bekerja dengan ikhlas untuk membangun kampung dan menyejahterakan masyarakat,” pungkasnya. (Cha)