Investasi Besar Jadi Penyebab Cash Flow RS Abdul Rivai Terganggu
Tanjung Redeb – Arus kas (cash flow) Rumah Sakit Abdul Rivai Berau disebut tengah mengalami tekanan. Hal ini disebabkan oleh besarnya investasi yang dilakukan rumah sakit dalam beberapa tahun terakhir, baik pada sektor sumber daya manusia (SDM) maupun pengadaan aset fisik.
Direktur Rumah Sakit Abdul Rivai Kabupaten Berau, dr. Jusram menjelaskan, gangguan cash flow bukan karena kerugian, melainkan karena dana yang dimiliki telah dialihkan menjadi berbagai bentuk investasi untuk meningkatkan layanan kesehatan.
“Saat ini Rumah Sakit Abdul Rivai sedang melakukan investasi di bidang kesehatan, baik secara fisik maupun secara SDM. Itu yang kami artikan sebagai penyebab terganggunya cash flow,” ungkap jusram.
Dalam tiga tahun terakhir, RS Abdul Rivai telah menambah lebih dari 10 dokter spesialis untuk menjawab kebutuhan layanan masyarakat. Sejumlah layanan yang sebelumnya belum tersedia kini telah dihadirkan, seperti dokter jantung, saraf, gizi, hingga bedah mulut.
“Kami sudah menambah lebih dari 10 dokter spesialis. Apakah ini tidak butuh dana? Pasti butuh dana. Bahkan di awal, rumah sakit yang membayar gaji dan insentif mereka melalui anggaran BLUD,” jelasnya.
Ia mencontohkan, untuk satu dokter spesialis jantung saja, rumah sakit harus mengeluarkan sekitar Rp23 juta per bulan di luar jasa pelayanan.
Selain investasi SDM, rumah sakit juga melakukan penguatan dari sisi infrastruktur dan aset fisik. Hal ini yang kemudian memunculkan persepsi adanya utang, termasuk kewajiban sekitar Rp12 miliar yang sempat disorot.
Namun demikian, manajemen menegaskan bahwa dana tersebut tidak hilang, melainkan telah berubah menjadi aset.
“Uang yang kita miliki sekarang sudah dalam bentuk fisik. Jadi bukan hilang, tapi berubah menjadi aset. Itu yang kemudian memengaruhi cash flow kami,” ujarnya.
Hasil penilaian dari Konsultan Akuntan Publik (KAP) bahkan menunjukkan bahwa secara keseluruhan kondisi keuangan rumah sakit masih tergolong surplus jika memperhitungkan nilai aset yang dimiliki.
“Memang kami punya utang, tetapi kami juga punya aset. Kalau aset itu diuangkan, sebenarnya kami punya banyak nilai, hanya saja tidak dalam bentuk kas,” pungkasnya. (Cha)











