Kerajinan Kelapa Maratua Disiapkan Tembus Pasar Wisata
TANJUNG REDEB – Resor dan penginapan di Maratua berpeluang menjadi pasar baru bagi kerajinan berbahan kelapa yang dikembangkan masyarakat setempat. Selain dipasarkan sebagai buah tangan wisatawan, produk tersebut juga diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dekorasi hingga perlengkapan usaha pariwisata.
Peluang ini tengah dikembangkan Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Berau dengan memanfaatkan bagian kelapa yang selama ini belum diolah secara maksimal.
Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita, mengatakan, pengembangan kerajinan tersebut menjadi salah satu cara untuk meningkatkan nilai ekonomi bahan baku lokal sekaligus memperluas keterlibatan masyarakat dalam industri pariwisata.
Maratua dinilai memiliki dua modal utama untuk pengembangan usaha ini, yakni ketersediaan bahan baku dan keberadaan wisatawan yang menjadi calon konsumen.
Beragam produk pun mulai diperkenalkan melalui pelatihan kepada masyarakat. Bagian kelapa yang sebelumnya kurang dimanfaatkan diolah menjadi berbagai kerajinan, seperti gantungan kunci, bros, kalung, tempat tisu, hingga miniatur kapal layar.
Produk-produk tersebut diharapkan memiliki ciri khas yang mencerminkan identitas Maratua. Dengan begitu, kerajinan lokal tidak hanya menjadi barang pelengkap, tetapi juga dapat berkembang sebagai produk unggulan yang memiliki nilai jual.
“Potensinya sudah ada, tinggal kita dorong supaya menjadi produk yang punya nilai jual,” ujar Eva.
Meski demikian, pengembangan usaha tidak cukup hanya dengan membekali masyarakat keterampilan membuat kerajinan. Keberlanjutan produksi dan kepastian pasar juga menjadi hal yang perlu dipersiapkan sejak awal.
Untuk itu, Diskoperindag mendorong kelompok pengrajin membentuk kelembagaan serta melengkapi legalitas usaha. Langkah ini penting agar kelompok masyarakat memiliki dasar yang lebih kuat untuk mengakses bantuan peralatan maupun program pembinaan.
Pendampingan juga diharapkan tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Pemerintah kampung dan kecamatan diminta ikut mendukung kelompok pengrajin agar keterampilan yang telah diperoleh dapat berlanjut menjadi kegiatan usaha produktif.
Di sisi pemasaran, Diskoperindag berupaya membuka peluang kerja sama dengan resor dan pelaku usaha pariwisata di Maratua. Dekranasda juga didorong terlibat untuk membantu memperkenalkan produk kerajinan masyarakat ke pasar yang lebih luas.
Eva menilai, pelaku usaha wisata dapat menjadi mitra strategis karena memiliki kebutuhan terhadap berbagai produk pendukung operasional. Kerajinan berbahan kelapa, misalnya, berpotensi dimanfaatkan sebagai dekorasi maupun perlengkapan di kamar dan restoran.
“Pasarnya jangan hanya menunggu wisatawan datang membeli. Kami ingin pelaku usaha wisata ikut memakai produk masyarakat,” katanya.
Melalui pendekatan tersebut, pemasaran kerajinan diharapkan tidak hanya bergantung pada pembelian langsung oleh wisatawan. Permintaan dari resor dan usaha pariwisata juga berpotensi menjaga produksi tetap berjalan secara berkelanjutan.
Jika dikembangkan secara konsisten, pemanfaatan kelapa ini dapat membuka peluang usaha bagi warga sekaligus memperkuat hubungan antara industri kreatif dan pariwisata di Maratua.
Bagi Diskoperindag, sasaran akhirnya bukan sekadar menghasilkan kerajinan dari bahan yang sebelumnya terbuang, melainkan membangun usaha yang mampu memberikan pendapatan bagi masyarakat.
“Yang kami kejar adalah masyarakat bisa ikut menjadi pelaku usaha dari potensi yang mereka punya,” pungkasnya. (Cha)











