Bandara Kalimarau Siaga Hantavirus, Pengawasan Penumpang Bakal Diperketat
Tanjung Redeb – Manajemen Bandara Kalimarau mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran Hantavirus yang belakangan menjadi perhatian nasional.
Langkah antisipasi ini dilakukan setelah Kementerian Kesehatan RI melaporkan puluhan kasus Hantavirus ditemukan di sejumlah wilayah Indonesia sepanjang 2024 hingga Mei 2026.
Kepala Badan Layanan Umum Kantor UPBU Kelas I Kalimarau, Patah Atabri, mengatakan hingga kini pihaknya memang belum menerima petunjuk teknis maupun instruksi resmi dari kementerian terkait mengenai prosedur penanganan khusus di area bandara.
“Belum ada arahan lanjutan dari regulator maupun dari pihak kesehatan pelabuhan terkait penanganan Hantavirus ini,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis, (21/05/2026).
Meski demikian, pihak Bandara Kalimarau tetap melakukan langkah mitigasi dini dengan memperkuat koordinasi bersama instansi kesehatan guna memantau perkembangan situasi serta menyiapkan langkah penanganan apabila regulasi resmi telah diterbitkan pemerintah pusat.
Menurut Patah, bandara sebagai salah satu pintu masuk transportasi memiliki peran penting dalam mencegah potensi penyebaran penyakit menular, sehingga pengawasan akan diperketat apabila ada instruksi lanjutan dari pemerintah.
“Kalau nanti sudah ada regulasi ataupun prosedur resmi yang diterbitkan, tentu akan langsung kami tindak lanjuti dan terapkan di lingkungan bandara,” katanya.
Ia menegaskan, manajemen Bandara Kalimarau berkomitmen menjaga keamanan dan kesehatan pengguna jasa transportasi udara di Kabupaten Berau melalui upaya pencegahan sejak dini.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak panik menyikapi temuan kasus Hantavirus. Masyarakat diminta tetap menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan pola hidup sehat untuk meminimalkan risiko penularan.
Hantavirus sendiri merupakan virus yang ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus. Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan urine, air liur, maupun kotoran tikus yang terinfeksi, terutama saat partikel virus terhirup di udara.
Gejala awal penyakit ini umumnya menyerupai flu, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, hingga mual dan muntah. Pada kasus tertentu, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan serius pada paru-paru maupun ginjal.
Untuk mencegah penularan, masyarakat disarankan menjaga kebersihan rumah dan tempat kerja, menutup akses masuk tikus, menggunakan alat pelindung saat membersihkan area yang terkontaminasi, serta rutin mencuci tangan setelah beraktivitas. (Cha)











