Liberika Berau Dinilai Punya Peluang Besar, Sekolah Tani Indonesia Dorong Pengembangan Agroforestri
Tanjung Redeb – Potensi kopi Liberika di Kabupaten Berau dinilai sangat menjanjikan untuk dikembangkan sebagai komoditas unggulan. Selain memiliki cita rasa yang mulai mendapat pengakuan dunia, kopi Liberika juga dinilai cocok dibudidayakan dengan sistem agroforestri yang memadukan berbagai jenis tanaman dalam satu lahan.
Hal tersebut disampaikan Fathoni Saputra dari Sekolah Tani Indonesia saat memberikan edukasi kepada petani di Kampung Parisau, Kecamatan Gunung Tabur.
Menurutnya, kopi Liberika sangat memungkinkan ditumpangsarikan dengan tanaman kakao maupun komoditas lainnya melalui sistem agroforestri. Di lokasi tersebut, petani tidak hanya menanam kopi dan kakao, tetapi juga mengembangkan budidaya kelubut.
“Jadi, kakao sendiri apakah bisa ditumpangsarikan dengan kopi? Sangat bisa dengan sistem agroforestri. Hari ini sistem yang kita terapkan khususnya di Parisau adalah memadukan kopi dengan tanaman lainnya, dan di sini juga ada budidaya kelubut,” ujarnya.
Fathoni menjelaskan, secara global keberadaan perkebunan kopi Liberika masih sangat sedikit, hanya sekitar satu hingga dua persen dari total perkebunan kopi dunia. Kondisi tersebut membuat Liberika memiliki peluang pasar yang besar apabila dikelola dengan baik.
Ia mengungkapkan, pada abad ke-19 Belanda sempat mengganti tanaman Arabika dengan Liberika akibat serangan penyakit karat daun. Namun, pengembangan Liberika tidak berlangsung lama karena kemudian digantikan oleh Robusta yang dinilai memiliki produktivitas lebih tinggi dan lebih mudah diterima industri saat itu.
“Kenapa Liberika tidak berkembang? Karena dulu belum mengenal teknologi pengolahan pascapanen. Akibatnya kualitas rasanya belum bisa dimaksimalkan,” jelasnya.
Seiring berkembangnya teknologi pengolahan kopi, menurut Fathoni, kualitas Liberika kini semakin diakui. Bahkan dalam beberapa kompetisi kopi internasional, Liberika berhasil meraih prestasi yang membuktikan bahwa varietas tersebut memiliki karakter rasa yang diminati pasar.
Ia meyakini kondisi tanah di Kabupaten Berau yang subur menjadi modal besar untuk menghasilkan kopi Liberika berkualitas, tidak hanya mendukung pengembangan kakao tetapi juga membuka peluang lahirnya sentra kopi Liberika di daerah tersebut.
“Di tanah Berau yang sangat subur, bukan hanya kakaonya saja, tetapi Liberika saya yakini punya potensi besar ke depan,” katanya.
Melihat peluang tersebut, Sekolah Tani Indonesia membuka ruang kolaborasi dengan kelompok tani di Kampung Parisau maupun wilayah lain di Kecamatan Gunung Tabur. Fathoni mengajak petani yang ingin memperdalam budidaya hingga pengolahan kopi agar memanfaatkan pendampingan yang disiapkan.
“Kami menawarkan kerja sama dengan teman-teman Parisau dan petani di sekitar Sambaliung. Siapa saja yang ingin berdiskusi dan belajar tentang pertanian kopi, silakan datang ke Parisau,” pungkasnya.(Cha)











