Berawal dari Satu Pekarangan, Upaya Selamatkan Kopi Talisayan Terus Digencarkan
Tanjung Redeb – Keberadaan kopi lokal di Kecamatan Talisayan kini berada di titik yang mengkhawatirkan. Dari yang dulunya banyak dibudidayakan masyarakat, kini hanya tersisa satu keluarga yang masih mempertahankan tanaman kopi tersebut di pekarangan rumahnya.
Kondisi itu diungkapkan Pemilik Kebun Kopi Liberika Sembakungan, Abdul Rahman Ismail atau yang sering disapa Arie, menjadikan penyelamatan kopi Talisayan sebagai misi utama pengembangan kopi Liberika di Kabupaten Berau.
“Visi misi kami yang pertama adalah penyelamatan kopi yang ada di Talisayan. Kopi di Talisayan dulunya banyak, dan hari ini hanya satu keluarga dari Ibu Halmiya yang masih mempertahankan kopinya di pekarangan rumah di kampung Sumber Mulia,” ujarnya.
Menurut Arie, keberadaan kopi lokal tersebut memiliki nilai sejarah sekaligus potensi ekonomi yang perlu dijaga agar tidak hilang. Dari upaya pelestarian itulah, ia berharap pengembangan kopi Liberika di Berau dapat terus berkembang.
Selain menyelamatkan kopi Talisayan, Arie juga menargetkan kawasan Sembakungan menjadi sentra kopi di lahan pascatambang. Ia berharap langkah tersebut mampu membuka peluang ekonomi baru sekaligus memperkuat identitas Berau sebagai daerah penghasil kopi.
Perjalanan membangun kopi Liberika sejak 2019, kata dia, penuh tantangan. Namun dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, pelaku usaha, organisasi hingga komunitas petani, membuat pengembangan kopi terus berjalan.
Saat ini, Kebun Kopi Liberika Sembakungan juga mulai dikenal sebagai lokasi singgah wisatawan dan tengah dipersiapkan menjadi kawasan agrowisata. Arie berharap, kolaborasi yang telah terjalin dapat mempercepat terwujudnya cita-cita menjadikan kopi Liberika sebagai komoditas unggulan Berau.
“Yang kami pikirkan hari ini bukan lagi hanya Sembakungan, tetapi bagaimana Berau memiliki kopi Liberika yang dikenal hingga tingkat nasional bahkan internasional,” tutupnya.(Cha)











